KORANPOST.COM, Magelang – Kementerian Pertanian terus mendorong transformasi sektor pertanian melalui penguatan sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Langkah tersebut salah satunya diwujudkan melalui pendidikan vokasi pertanian yang menyiapkan generasi muda agar memiliki kompetensi teknis, jiwa kewirausahaan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Komitmen itu ditunjukkan Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma) dengan mengukuhkan 341 mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 dalam Sidang Terbuka Senat Pengukuhan Mahasiswa Baru di Kampus Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2026).

Sebanyak 341 mahasiswa tersebut merupakan hasil seleksi dari 2.897 pendaftar. Mereka tersebar di enam program studi, yakni 64 mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, 60 mahasiswa Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, 61 mahasiswa Program Studi Agribisnis Hortikultura, 61 mahasiswa Program Studi Teknologi Benih, 35 mahasiswa Program Studi Teknologi Pakan Ternak, serta 60 mahasiswa Program Studi Teknologi Produksi Ternak.

Pengukuhan tersebut turut disaksikan para orang tua dan wali mahasiswa. Kehadiran ratusan mahasiswa baru ini menjadi bagian dari upaya Kementan memperkuat regenerasi dan menyiapkan SDM pertanian yang mampu menjawab tantangan sektor pertanian masa depan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan transformasi pertanian harus mampu mengubah cara pandang generasi muda terhadap sektor pertanian. Menurutnya, pertanian saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional, tetapi telah berkembang menjadi sektor usaha yang menjanjikan dengan dukungan teknologi dan inovasi.

“Saya melihat sendiri bagaimana anak-anak muda mampu mengubah hidupnya melalui pertanian modern. Mereka berani belajar, memanfaatkan teknologi, dan menjadikan pertanian sebagai bisnis yang menghasilkan. Dalam waktu relatif singkat, ada yang mampu meningkatkan taraf hidupnya karena mau berubah,” ujar Amran.

Ia menegaskan Kementan terus mendorong semakin banyak generasi muda terjun ke sektor pertanian sebagai petani modern maupun wirausahawan atau agripreneur. Pemanfaatan teknologi, inovasi, dan penguatan kapasitas usaha menjadi modal penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

“Kita ingin semakin banyak anak muda masuk ke sektor pertanian bukan karena terpaksa, tetapi karena melihat peluang bisnisnya yang besar. Pertanian modern adalah masa depan. Kalau dikelola dengan inovasi dan teknologi, sektor ini mampu menciptakan pengusaha-pengusaha baru sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan pendidikan vokasi pertanian Kementan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepemimpinan, kewirausahaan, penguasaan teknologi, serta kemampuan menciptakan nilai tambah melalui pengembangan usaha dan hilirisasi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan pendidikan vokasi pertanian memiliki peran penting dalam menyiapkan SDM yang kompeten sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi dan digitalisasi.

“Para lulusan diharapkan menjadi kekuatan baru SDM pertanian Indonesia, baik sebagai agripreneur, tenaga profesional di dunia usaha dan dunia industri, pendamping petani, tenaga teknis, maupun aparatur pertanian yang mampu mendorong kemajuan sektor pertanian,” kata Idha.

Sementara itu, Direktur Polbangtan Yoma R. Hermawan mengatakan mahasiswa baru yang dikukuhkan merupakan bagian dari generasi yang diharapkan mampu membawa perubahan terhadap wajah pertanian Indonesia.

Menurutnya, transformasi pertanian perlu dimulai dari perubahan pola pikir generasi muda. Pertanian harus dipandang sebagai sektor usaha yang memiliki prospek, bukan sekadar pekerjaan dengan pendapatan terbatas.

Baca Juga: Gerakan Tanam Serempak di Simeulue, Kementan Optimalkan Oplah dan Cetak Sawah untuk Perkuat Swasembada Pangan

“Kita ubah mindset pertanian yang terkesan miskin, kotor, pendapatan kecil menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan,” ujar Hermawan.

Ia menjelaskan transformasi tersebut dapat diwujudkan melalui penerapan inovasi dan teknologi, mitigasi terhadap perubahan agroklimat, serta pengelolaan usaha yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pasar.

Hermawan juga menargetkan lulusan Polbangtan Yoma tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Karena itu, profil lulusan diarahkan untuk memiliki kapasitas sebagai qualified job creator sekaligus qualified job seeker.

“Salah satu profil lulusan Polbangtan adalah sebagai wirausahawan, di samping untuk dapat bekerja di dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja pertanian,” jelasnya.

Ia pun mengajak para orang tua dan wali mahasiswa untuk memberikan dukungan penuh kepada putra-putrinya selama menempuh pendidikan, termasuk mendorong mereka berani membangun usaha di sektor pertanian maupun peternakan.

“Hal ini akan sangat membanggakan karena putra-putri Bapak/Ibu bukan sebagai pencari kerja, namun dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” katanya.

Untuk memperkuat orientasi tersebut, Polbangtan Yoma mulai menerapkan kurikulum Kewirausahaan dan Swasembada Pangan sebagai bagian dari upaya membekali mahasiswa dengan kemampuan membangun usaha sekaligus memahami tantangan dan kebutuhan sektor pangan nasional.

Kepada 341 mahasiswa baru yang telah berhasil lolos seleksi, Hermawan berpesan agar kesempatan menempuh pendidikan di Polbangtan Yoma dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Ini adalah hasil dari perjuangan Saudara yang luar biasa. Semoga tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Manfaatkan dengan baik beasiswa pendidikan dari Kementerian Pertanian di Polbangtan Yoma,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *