Site icon Koran Post

Wayang Ajen Junior Jadi Bukti Regenerasi Seni Pedalangan di Tengah Kota Multikultur Bekasi

Oleh: Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M.

KORANPOST.COM, Sabtu malam, 29 Agustus 2026, Plaza Patriot Candrabhaga Kota Bekasi tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Di tengah denyut kota metropolitan yang terus bergerak, ruang publik itu berubah menjadi panggung kebudayaan yang mempertemukan tradisi, kreativitas, generasi muda, dan keragaman budaya Nusantara.

Melalui Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) Jilid III, yang digagas oleh Alamsyah Praja, S.Sn., Ketua Dewan Kesenian Kebudayaan Kota Bekasi, kebudayaan hadir bukan sebagai benda masa lalu yang disimpan dalam etalase, melainkan sebagai praktik kehidupan yang terus bergerak, berdialog, beradaptasi, dan menemukan relevansinya di tengah masyarakat kontemporer.

Salah satu sajian yang menarik perhatian adalah penampilan Wayang Ajen Junior dengan dalang muda Aming Ajen, binaan Ki Dalang Wawan Ajen dari Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi. Penampilan tersebut memperlihatkan satu hal penting: regenerasi seni pedalangan bukan sekadar melahirkan dalang baru, melainkan menyiapkan generasi seniman yang mampu memahami akar tradisi sekaligus memiliki keberanian untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa pertunjukan yang sesuai dengan zamannya.

Di sinilah masa depan seni tradisi sesungguhnya dipertaruhkan. Tradisi tidak cukup hanya diwariskan. Ia harus dipahami, dihidupkan, ditafsirkan, dikembangkan, dan diberi ruang untuk menemukan bentuk baru tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

PNBK dan KeberpihakanterhadapKebudayaan

Di balik geliat event kebudayaan seperti PNBK, terdapat persoalan yang jauh lebih fundamental, yaitu keberpihakan terhadap kehidupan kebudayaan. Perhatian dan komitmen Wali Kota Bekasi, beserta jajaran Pemerintah Kota Bekasi terhadap perkembangan seni dan budaya merupakan modal sosial yang penting bagi keberlangsungan ekosistem kebudayaan di kota ini. Keberpihakan tersebut menjadi bermakna ketika pemerintah tidak memandang seni budaya semata-mata sebagai pelengkap kegiatan seremonial, tetapi memberikan ruang, waktu, dan peristiwa kepada seniman serta pelaku budaya untuk berkarya, berekspresi, berinteraksi dengan masyarakat, dan menunjukkan eksistensinya di ruang publik.

Sebab, seniman membutuhkan panggung, budaya membutuhkan ruang hidup, dan kreativitas membutuhkan peristiwa. Tanpa ruang, karya seni kehilangan tempat untuk berjumpa dengan publik. Tanpa waktu, proses kreatif sulit berkembang. Tanpa peristiwa, kebudayaan kehilangan momentum untuk hadir sebagai pengalaman sosial yang hidup. Karena itu, pemerintah memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Pemerintah tidak harus menjadi satu-satunya produsen kebudayaan. Pemerintah justru dapat berperan sebagai fasilitator, regulator, katalisator, dan orkestrator ekosistem kebudayaan.

Seniman mencipta. Komunitas menghidupkan. Masyarakat mengapresiasi. Pemerintah menciptakan ruang, memastikan kesempatan, dan membangun ekosistem agar semuanya dapat tumbuh. Apabila relasi tersebut dibangun secara konsisten, kebudayaan tidak hanya menjadi kekuatan sosial, tetapi juga dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi.

Dengan perspektif demikian, perhatian pemerintah terhadap seni budaya sesungguhnya bukan sekadar pembiayaan kegiatan, melainkan investasi kebudayaan jangka panjang. Ketika pemerintah membuka ruang bagi seniman, sesungguhnya pemerintah sedang membuka ruang bagi identitas kota untuk tumbuh.

Kota Bekasi: Kota Multikulturdengan Modal Budaya yang Besar

Kota Bekasi memiliki modal kebudayaan yang sangat besar karena karakter masyarakatnya yang multikultur. Berbagai latar belakang budaya hidup dan berinteraksi dalam ruang kota yang sama. Tradisi Sunda, Betawi, Jawa, Melayu, Minang, Batak, Flores, Bali, dan berbagai kebudayaan Nusantara lainnya tidak selalu berdiri dalam ruang yang terpisah. Mereka berjumpa, berinteraksi, beradaptasi, bahkan melahirkan ekspresi budaya baru.

Karakter multikultur tersebut semestinya tidak dipandang sebagai persoalan fragmentasi identitas, tetapi sebagai kekayaan budaya dan modal kreativitas, kota Bekasi memiliki peluang membangun identitas kotanya bukan melalui satu kebudayaan tunggal, melainkan melalui narasi sebagai kota multikultur yang mampu mempertemukan berbagai keberagaman dalam satu ruang kebudayaan bersama.

Dalamperspektifpariwisatakondisi tersebutmerupakankeunggulankompetitif.

Wisatawan masa kini tidak selalu mencari destinasi yang hanya menawarkan pemandangan. Mereka semakin tertarik pada pengalaman yang autentik, beragam, interaktif, dan memiliki cerita. Mereka ingin mengalami kehidupan budaya masyarakat, bukan sekadar menjadi penonton. Karena itu, keberagaman budaya Kota Bekasi dapat dikembangkan menjadi sumber penciptaan atraksi wisata budaya. Wayang Ajen, Wayang Golek Sunda, Wayang Kulit Betawi, Wayang Orang, musik tradisi, tari, teater, kuliner, kriya, fesyen budaya, festival, tradisi masyarakat, komunitas seni, hingga kreativitas generasi muda dapat dikemas menjadi pengalaman wisata yang memiliki karakter khas Kota Bekasi. Dengan demikian, kebudayaan bukan hanya objek yang dilestarikan. Kebudayaan dapat menjadi daya tarik destinasi.

Dari Pelestarian Budaya Menuju Nilai Tambah Ekonomi Kreatif Pada titik ini, kebudayaan tidak boleh berhenti pada persoalan pelestarian. Pelestarian memang penting. Namun, kebudayaan juga harus diberi kesempatan untuk menghasilkan nilai tambah sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Ketika sebuah pertunjukan budaya menghadirkan banyak penonton, yang bergerak bukan hanya seniman di atas panggung. Di sekitarnya dapat tumbuh aktivitas kuliner, fesyen, kriya, merchandise, fotografi, videografi, transportasi, akomodasi, jasa kreatif, media digital, hingga berbagai bentuk usaha mikro dan ekonomi kreatif lainnya. Di situlah ekosistem kebudayaan mulai bekerja.

Seni budaya bukan semata-mata expenditure atau pengeluaran kegiatan. Ia dapat diposisikan sebagai creative capital yang menghasilkan multiplier effect bagi perekonomian kota. Investasi pada event budaya dapat menghasilkan dampak berlapis: memperkuat identitas kota, memperluas partisipasi masyarakat, memberi ruang kepada seniman, meningkatkan kreativitas generasi muda, membuka peluang usaha, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif dan pariwisata. Paradigma inilah yang perlu terus diperkuat. Budaya dijaga, diriksa, diraksa, dibina, dikembangkan, dan dimanfaatkan. Budaya diberi nilai tambah, dan nilai tambah tersebut dikembalikan kepada masyarakat kebudayaan.

PNBK: Dari Event MenujuKalenderBudaya Kota Bekasi

Dalam konteks tersebut, Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi kalender event tahunan Kota Bekasi. PNBK sebaiknya tidak berhenti sebagai event yang berlangsung secara episodik. Ia dapat dirancang menjadi agenda budaya tahunan yang memiliki kepastian waktu dan tempat, positioning yang jelas, karakter, identitas visual, kurasi artistik, tema, program unggulan, serta jaringan promosi yang konsisten.

Kepastian tersebut penting. Apabila masyarakat sudah mengetahui bahwa pada periode tertentu setiap tahun akan berlangsung PNBK, maka sejak jauh hari dapat dilakukan persiapan, promosi, pengemasan paket wisata, pelibatan komunitas, hingga pengembangan aktivitas ekonomi kreatif di sekitarnya. Jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan, PNBK dapat diarahkan menjadi salah satu ikon atraksi wisata budaya Kota Bekasi. Bayangkan jika setiap tahun masyarakat dan wisatawan memiliki ekspektasi untuk datang ke Bekasi karena mengetahui bahwa pada waktu tertentu akan berlangsung Pesona Nusantara Bekasi Keren.

Di dalamnya dapat hadir parade budaya, pertunjukan wayang, musik tradisi, tari, teater, kuliner Nusantara, pameran ekonomi kreatif, kriya, fesyen budaya, workshop seni, pertunjukan anak dan remaja, serta kolaborasi lintas budaya. Dengan demikian, PNBK bukan lagi sekadar event. Event menjadi alasan orang datang. Kebudayaan menjadi pengalaman. Pengalaman menjadi kenangan. Kenangan membangun citra destinasi. Dan citra destinasi menggerakkan ekonomi. Dari sinilah sebuah event dapat berkembang menjadi brand destination.

Ruang, Waktu, dan PeristiwabagiSeniman

Ada satu gagasan sederhana tetapi fundamental dalam pembangunan kebudayaan: seniman membutuhkan ruang, waktu, dan peristiwa. Ruang berarti tempat untuk berkarya. Waktu berarti kesempatan untuk berproses. Peristiwa berarti momentum untuk bertemu dengan publik. Ketiganya menjadi semakin penting di kota metropolitan seperti Kota Bekasi. Para seniman tidak cukup hanya diminta menjaga tradisi. Mereka harus diberi kesempatan untuk menciptakan masa depan tradisi. Ketika pemerintah menyediakan ruang pertunjukan, memberikan kesempatan kepada komunitas, menghadirkan festival, mendukung regenerasi seniman, serta membuka akses kepada publik, sesungguhnya pemerintah sedang membangun infrastruktur sosial kebudayaan.

Infrastruktur kebudayaan tidak selalu berupa gedung kesenian. Panggung publik, festival, event, ruang komunitas, program pendidikan seni, ruang kreatif, kalender budaya, dan jejaring kolaborasi juga merupakan bagian dari infrastruktur kebudayaan. PNBK dapat menjadi salah satu bentuk konkret dari infrastruktur tersebut.

WayangAjen Junior: Regenerasi yang TidakSekadarMelahirkanDalangBaru

Di tengah pertunjukan PNBK Jilid III, penampilan Dalang Aming Ajen menjadi menarik bukan semata-mata karena ia seorang dalang muda. Yang lebih penting adalah proses regenerasi yang berada di belakangnya. Dalang Aming Ajen memperlihatkan bahwa generasi muda dapat mempelajari tradisi sekaligus mengolahnya menjadi ekspresi yang lebih dinamis, komunikatif, atraktif, dan dekat dengan karakter penonton masa kini. Ia tampil memukau, dinamis, lumes, atraktif, komunikatif, sekaligus menghibur. Ia tidak menempatkan penonton sebagai pihak yang harus sepenuhnya mengikuti bahasa pertunjukan. Sebaliknya, ia berusaha membangun jembatan komunikasi dengan penonton.

Inilah salah satu persoalan penting dalam perkembangan seni tradisi dewasa ini. Tradisi akan sulit bertahan apabila hanya mempertahankan bentuk lama tanpa membaca perubahan masyarakat. Sebaliknya, inovasi juga akan kehilangan identitas apabila memutus seluruh hubungan dengan akar tradisinya. Tantangannya adalah menciptakan kontinuitas melalui transformasi. Dalang Aming Ajen memperlihatkan proses tersebut. Ia tidak sekadar memainkan wayang, tetapi mengolah keseluruhan unsur pertunjukan yang dipelajarinya di Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi menjadi satu kesatuan dramaturgis.

Lakon, sanggit, antawacana, sabetan, suluk, kakawin, haleuang, musik, vokal, humor, pola adegan, karakter tokoh, hingga komunikasi dengan penonton diperlakukan sebagai bagian dari konstruksi pertunjukan yang utuh. Garap pertunjukan tersebut dirancang secara khusus oleh Ki Dalang Wawan Ajen sebagai penulis naskah dan sutradara. Namun, yang menarik adalah bagaimana rancangan tersebut diterjemahkan oleh Dalang Aming Ajen dengan energi, karakter, dan kreativitas generasinya sendiri. Di situlah proses regenerasi menjadi hidup. Regenerasi bukan sekadar transfer keterampilan. Regenerasi adalah transfer nilai, pengetahuan, pengalaman, sekaligus keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Sanggit yang MembacaPersoalan Zaman

Salah satu kekuatan penampilan Dalang Aming Ajen terletak pada pengolahan sanggit, yakni konstruksi kreatif dalam mengolah lakon dan pertunjukan. Cerita tidak disampaikan secara datar. Struktur adegan ditata dengan jelas, alur dibangun secara terukur, bahasa sastra diolah agar tetap memiliki keindahan, tetapi sekaligus menggunakan bahasa yang lugas dan komunikatif. Lebih penting lagi, pesan moral yang disampaikan memiliki hubungan dengan situasi masyarakat Indonesia hari ini. Di sinilah wayang menunjukkan relevansinya sebagai media refleksi sosial.

Wayang bukan sekadar cerita tentang masa silam. Di tangan dalang kreatif, wayang dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan manusia kontemporer: ketidakadilan, keserakahan, kekuasaan, konflik kepentingan, krisis moral, relasi sosial, tanggung jawab generasi muda, hingga berbagai persoalan kehidupan masyarakat. Pesan tersebut tidak harus disampaikan melalui ceramah yang menggurui. Ia dapat hadir melalui karakter, konflik, dialog, humor, simbol, dan metafora.

Humor Panakawan, misalnya, tidak berhenti sebagai unsur pengundang tawa. Ia dapat dikembangkan menjadi humor satiris—jenaka di permukaan, tetapi menyimpan kritik sosial yang dalam. Penonton tertawa, tetapi pada saat yang sama diajak berpikir. Inilah kekuatan wayang sebagai seni pertunjukan yang memiliki dimensi hiburan sekaligus pendidikan dan refleksi sosial.

Bahasa Visual yang Berbicara

Wayang adalah seni yang bekerja melalui bahasa visual. Pola adegan, posisi tokoh, arah gerak, komposisi ruang, karakter rupa wayang, pencahayaan, musik, hingga sabetan membangun sistem tanda yang dapat dibaca penonton. Pada pertunjukan Dalang Aming Ajen, pola adegan dikonstruksi secara estetik dan apik. Makna filosofis tidak dibiarkan menjadi sesuatu yang berat dan eksklusif. Ia diterjemahkan ke dalam bahasa pertunjukan yang sederhana, komunikatif, tetapi tetap memiliki kedalaman. Seni yang baik bukan seni yang menyederhanakan makna, melainkan seni yang mampu membuat makna yang kompleks dapat dialami secara sederhana.

SabetanWayang: Ketika TradisiBertemuEnergiTubuhKontemporer

Aspek lain yang menonjol dari Dalang Aming Ajen adalah pengolahan gerak dan sabetan wayang. Teknik gerak, penarikan karakter, hingga adegan peperangan disajikan dengan performa yang presisi, demonstratif, dan penuh energi. Gerak perang dikembangkan melalui dialog dengan berbagai bentuk seni bela diri, seperti pencak silat, karate, kungfu, tinju, hingga tradisi bela diri lokal seperti benjang dan gulat.

Eksplorasi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi dapat berkembang melalui proses dialog budaya. Namun, penggabungan berbagai unsur tetap membutuhkan kendali artistik.Setiap gerak harus memiliki fungsi dramaturgis, karakterologis, ritmis, dan estetis. Dengan demikian, sabetan bukan sekadar teknik memainkan wayang, melainkan menjadi bahasa tubuh yang menghidupkan karakter dan konflik.

SuaraDalang dan HadirnyaTaksu

Kekuatan pertunjukan wayang juga terletak pada kemampuan dalang membangun dunia suara. Suluk, tembang dalang, haleuang wayang, antawacana, serta dialog antartokoh menjadi satu kesatuan musikal dan dramaturgis. Dalang Aming Ajen memiliki karakter vokal yang khas. Artikulasinya jelas, penghayatan dialognya terjaga, sementara titi laras, irama, dan nada vokalnya mampu berkomunikasi dengan gamelan pengiring.

Dalam seni pertunjukan tradisi, teknik saja tidak cukup. Ada sesuatu yang sering disebut sebagai taksu-energi batiniah dan daya pancar artistik yang membuat seorang seniman mampu menghidupkan ruang pertunjukan. Pada diri Dalang Aming Ajen, energi tersebut mulai terlihat. Ia masih muda, kreatif, inovatif, tetapi tetap rendah hati. Karakter tersebut menjadi modal penting bagi perjalanan panjang seorang seniman.

WayangAjenInovasiAdaptasiKolaborasi, dan Implementasi

Apa yang ditampilkan Dalang Aming Ajen merupakan salah satu representasi dari prinsip pengembangan Wayang Ajen Diversity, yaitu inovasi, adaptasi, kolaborasi, dan implementasi secara berkelanjutan. Inovasi berarti keberanian menciptakan kemungkinan baru. Adaptasi berarti kemampuan membaca perubahan zaman. Kolaborasi berarti kesediaan membuka ruang dialog dengan berbagai disiplin, komunitas, teknologi, dan kebudayaan. Implementasi berarti memastikan gagasan tersebut benar-benar hadir dalam praktik kehidupan masyarakat. Keempat prinsip tersebut penting karena seni tradisi tidak dapat hanya mengandalkan romantisme masa lalu.

Seni tradisi membutuhkan strategi keberlanjutan. Ia harus hadir di panggung, sekolah, ruang publik, festival, industri kreatif, destinasi wisata, media digital, dan berbagai ruang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, tradisi tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan, tetapi menjadi sesuatu yang dialami dan diciptakan kembali oleh generasi baru.

PertemuanWayangAjen dan WayangKulit Betawi

Hal menarik lainnya dari PNBK Jilid III adalah hadirnya sajian Wayang Ajen Junior Dalang Aming Ajen, Wayang Golek tradisi dalang oleh sanggar mekar wagi 2, dan Wayang Kulit Betawi Dalang Santanu Wijaya Sanggar Tunas Jaya 3 dari Kota Bekasi, menghadirkan warna bersama yang berbeda. Kehadirannya penting karena menunjukkan bahwa identitas kebudayaan Kota Bekasi tidak harus dibangun melalui satu bentuk kesenian saja.

Melalui gagasan Wayang Ajen Diversity, Wayang Golek Sunda dan Wayang Kulit Betawi justru dapat ditempatkan sebagai dua ekspresi budaya yang saling berdialog dalam ruang kebudayaan Kota Bekasi. Wayang Kulit Betawi sangat menarik manakala digarap secara professional bisa menjadi daya Tarik tersendiri. Namun, terdapat satu catatan penting untuk penyelenggaraan event berikutnya. Kolaborasi kebudayaan tidak cukup hanya dengan menampilkan beberapa kesenian dalam satu panggung. Tiga pertunjukan yang tampil secara berurutan belum tentu menjadi pertunjukan kolaboratif kalau masih terdapat ego sentris, apalagi yang merasa dirinya mendominasi dan seolah paling setia memegang pakem tradisi. Pada kenyataannya seni  itu dinamis tidak statis.

KolaborasimembutuhkankonsepBersama

Diperlukan dramaturgi yang menghubungkan berbagai bentuk pertunjukan, tema yang menjadi titik temu, desain musik yang memungkinkan terjadinya dialog, pola pergantian adegan yang organik, bahkan bila memungkinkan tercipta satu lakon yang memungkinkan karakter Wayang Golek dan Wayang Kulit Betawi dan wayang orang bisa berinteraksi dalam satu dunia cerita. Dengan penggarapan yang lebih matang dan profesional, pertemuan tiga tradisi tersebut dapat berkembang menjadi sebuah produk seni pertunjukan kolaboratif khas Kota Bekasi. Inilah bentuk kebudayaan yang tidak sekadar merayakan perbedaan, tetapi mengubah perbedaan menjadi kreativitas.

Menuju PNBK sebagai Ikon WisataBudaya Kota Bekasi

Ke depan, PNBK memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu agenda kebudayaan  dan pariwisata unggulan Kota Bekasi. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan visi jangka panjang. Event harus memiliki kurasi. Program harus memiliki arah artistik. Seniman muda harus memperoleh ruang. Komunitas lokal harus dilibatkan. UMKM harus mendapatkan manfaat ekonomi. Dokumentasi harus dikelola secara profesional. Publikasi digital harus diperkuat. Jejaring pariwisata harus dibangun. Bahkan, dampak sosial dan ekonomi event perlu dievaluasi secara berkala.

Dengan demikian, PNBK dapat bergerak: dari event menjadi ekosistem; dari panggung menjadi platform; dari tontonan menjadi pengalaman; dari festival menjadi strategi kebudayaan; dan dari kebudayaan menjadi kekuatan pariwisata serta ekonomi kreatif. Jika konsistensi tersebut dapat dijaga, PNBK bukan mustahil berkembang menjadi salah satu ikon daya tarik wisata budaya Kota Bekasi. Kota Bekasi memiliki modalnya: masyarakat multikultur, komunitas seni yang hidup, generasi muda kreatif, ruang publik, dukungan pemerintah, serta kekayaan ekspresi budaya Nusantara. Yang dibutuhkan berikutnya adalah orkestrasi.

PenutupMemberi Masa Depankepada Tradisi

Penampilan Dalang Aming Ajen pada PNBK Jilid III memberikan satu pesan penting: masa depan wayang tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat kita mempertahankan masa lalu, tetapi juga oleh seberapa berani kita menyiapkan generasi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai masa lalu ke dalam bahasa masa depan. Dalang Aming bukan sekadar dalang muda yang tampil di atas panggung. Ia adalah simbol dari sebuah proses panjang pendidikan, regenerasi, kreativitas, dan transformasi kebudayaan.

Di balik keberanian seorang generasi muda untuk naik ke panggung, terdapat ekosistem yang harus terus dibangun: keluarga, sanggar, komunitas, masyarakat, seniman senior, lembaga pendidikan, dan pemerintah yang memberikan ruang bagi proses tersebut. Karena itu, perhatian dan keberpihakan Pemerintah Kota Bekasi terhadap seni budaya patut diapresiasi sekaligus terus diperkuat. Ketika Wali Kota Bekasi Dr. H. Tri Adhianto Tjahyono dan jajaran Pemerintah Kota Bekasi memberikan ruang, waktu, dan peristiwa kepada seniman, sesungguhnya mereka sedang memberi kesempatan kepada kebudayaan untuk tumbuh sebagai bagian dari masa depan kota. Kebudayaan tidak cukup hanya dirawat sebagai warisan.

Ia harus dihidupkan sebagai kekuatan pembangunan. Dari panggung budaya dapat lahir pendidikan. Dari kreativitas dapat lahir ekonomi. Dari keberagaman dapat lahir identitas. Dari event dapat lahir atraksi wisata. Dan dari konsistensi dapat lahir sebuah ikon kota. PNBK memiliki peluang menuju ke sana. Jika PNBK dikembangkan secara berkelanjutan sebagai kalender event tahunan, dikurasi secara profesional, diperkuat jejaring komunitasnya, dibangun ekosistem ekonomi kreatifnya, dan dipromosikan sebagai pengalaman wisata budaya, Pesona Nusantara Bekasi Keren dapat tumbuh menjadi salah satu signature event Kota Bekasi—event yang bukan hanya dibanggakan masyarakatnya, tetapi juga dinantikan wisatawan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah tradisi akan bertahan. Melainkan, Apakah kita mampu memberikan ruang kepada generasi baru untuk membuat tradisi itu tetap bermakna? Malam itu, ketika Dalang Aming Ajen menggerakkan wayang, melantunkan suara, membangun humor, menghidupkan konflik, dan menyampaikan pesan moral kepada penonton, jawabannya mulai terlihat. Tradisi menginspirasi menjasi kreativitas berkualitas.

Tradisi tidak sedang mati, tradisi sedang berubah. Dan perubahan itu membutuhkan ruang, membutuhkan keberanian, membutuhkan generasi, membutuhkan pemerintah yang berpihak, dan membutuhkan peristiwa kebudayaan yang terus-menerus mempertemukan karya dengan masyarakat. PNBK dapat menjadi salah satu ruang itu. Dalang Aming Ajen adalah salah satu generasi itu. Dan Kota Bekasi memiliki peluang untuk menjadikan kebudayaan sebagai salah satu wajah masa depannya.

Keterangan penulis: 

Dr. Wawan Gunawan, S,Sn.,MM

*Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung
**Pendiri dan Pengasuh Sanggar Seni Wayang Ajen Diversity Kota Bekasi, serta penggagas Wayang Ajen sebagai model inovasi seni pertunjukan berbasis budaya, pendidikan, dan teknologi kreatif.

Exit mobile version