Site icon Koran Post

LA 32 Riders: Touring Bukan Soal Jarak, tetapi Cerita, Persaudaraan, dan Kehangatan Kampung

KORANPOST.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA – Suara mesin motor mulai memecah dinginnya pagi usai salat subuh. Satu per satu anggota LA 32 Riders berkumpul, memastikan perlengkapan berkendara lengkap sebelum memulai perjalanan menuju Tasikmalaya. Tak ada target menaklukkan gunung, pantai, ataupun destinasi wisata populer. Touring kali ini memiliki tujuan yang jauh lebih sederhana, namun penuh makna, yakni menikmati kebersamaan sambil mencicipi kuliner khas kampung.

Enam orang dengan kesibukan masing-masing itu meninggalkan rutinitas pekerjaan sejenak. Ada yang tetap mengikuti rapat melalui Zoom di sela perjalanan, ada yang sesekali membuka ponsel untuk memastikan pekerjaan tetap berjalan, namun ketika motor kembali melaju, semua kembali larut dalam canda tawa khas sahabat lama.

Rute Bogor, Cianjur, Padalarang, Bandung, Nagreg hingga Tasikmalaya menjadi saksi perjalanan yang tidak hanya menguji stamina, tetapi juga mempererat persaudaraan. Jalur berkelok di Nagreg dan Malangbong menjadi tantangan tersendiri bagi para rider.

Salah seorang peserta, Margi Syarif, mengaku ruas jalan tersebut memberikan sensasi berkendara yang berbeda. “Nagreg dan Malangbong sore hari menjadi rute terasik serta menantang. Jalurnya bak ular meliuk-liuk, mengharuskan kami tetap fokus dan responsif saat menikung,” ujar Margi.

Sesampainya di Tasikmalaya, rombongan tidak disambut kemewahan sebuah resor atau restoran berbintang. Mereka justru menikmati suasana kampung yang tenang di kediaman sahabat mereka, Abah Martin.

Di sana, rumah panggung berbahan kayu menjadi tempat beristirahat setelah perjalanan panjang. Udara yang sejuk, suara alam, dan suasana pedesaan menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk pikuk perkotaan.

Barnas Kamora mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan selama touring. “Rumah tempat kami menginap di luar ekspektasi, seperti kembali ke desa,” katanya.

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba ketika berbagai hidangan khas Sunda tersaji di atas meja. Ikan nila goreng, lalapan segar, pete rebus, hingga menu sederhana yang justru menjadi bintang utama, yakni secobek pencok kacang panjang.

Bagi sebagian orang, pencok mungkin hanya sambal dengan potongan kacang panjang. Namun bagi LA 32 Riders, hidangan sederhana itu menjadi simbol kehangatan, kebersamaan, dan keramahan masyarakat kampung yang mereka rasakan sepanjang perjalanan.

Menurut Vidi, touring kali ini memang sejak awal bukan tentang mencari destinasi wisata. “Memang tidak ada destinasi wisata yang kami tuju. Kami hanya mengunjungi kampung sahabat kami Abah Martin di Tasikmalaya,” ujarnya.

Perjalanan sekitar enam jam itu akhirnya terasa begitu singkat ketika ditutup dengan obrolan hangat, tawa bersama, dan sajian pencok yang menggugah selera. Bagi LA 32 Riders, touring bukan sekadar soal seberapa jauh roda berputar, melainkan tentang siapa yang menemani perjalanan, cerita yang tercipta di sepanjang jalan, serta kenangan sederhana yang akan terus dikenang hingga perjalanan bperjalanan(*)

Exit mobile version